Jumat, 10 Januari 2020

Harapan Keberkahan Tahun 2020 Dengan Istiqomah

Membuka lembaran baru di tahun ini adalah ibarat menambah file baru kehidupan. File-file lama telah kita torehkan dengan segala suka dan duka. Agar file baru penuh keberkahan penuhi dengan semangat Istiqomah menuju Husnul Khotimah. Alloh Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
          Tahun lalu penuh dengan file-file. File kehidupan tersebut ada sebagian yang mengandung virus. Dosa adalah virus, kemaksiyatan adalah virus, menyakiti, tersakiti, memfitnah, difitnah, mencaci, dicaci, sedih, iri, dengki, dendam, dll. Itu semua virus. Membersihkan file lama yang penuh dengan virus itulah yang dimaksud: waltandhur nafsun maa qoddamat:
memperhatikan apa yang telah diperbuat. Untuk masa depan yang lebih baik.
                                      Masa depan yang penuh tantangan agar berkah bekalnya adalah Istiqomah. Alloh subhanahu Wata’ala berfirman dalam surat 72 ayat 16 

Dan bahwasanya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak). (Rezeki yang melimpah ruah bagai air yang mengalir sangat deras) Orang yang Istiqomah dalam perjalanan hidupnya akan mendapatkan rezeki bagaikan air yang mengalir deras.

Juga dalam surat lain, Alloh berfirman,
 Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu".(QS. Fushshilat ayat 30)

Huruf Nashob dan berfungsi penguat (yang menunjukkan sesungguhnya) yang membuat isim menjadi manshub dan khobarnya marfu ditetapkan atas fathah suatu ketetapan baginya.
Huruf yang berfungsi memfathahkan bermakna membuka atau mengawali suatu perbuatan  untuk perbuatan selanjutnya.
قَالُوا۟ =
Mereka mengucapkan. Mengucapkan dengan kata-kata yang baik itu sebagai penguatan jiwa atau motivasi. Ucapan yang diulang-ulang itu akan menggerakkan harapan keberkahan. Dalam bahasa lainnya adalah doa.
رَبُّنَا ٱللَّهُ=
Robb kami adalah Alloh. Rububiyah berarti Alloh Robb yang merawat, yang menjaga saat sakit, yang memberi dan memenuhi kebutuhan, mengampuni dosa.
Segala aktifitas hidup ini yang akan dinilai adalah di hadapan Alloh adalah Ikhtiyarnya (lihat QS. 7: 172) dengan demikian Alloh turunkan Malaikat spesial yang selalu menemani sampai kita wafat.

Tenang, tidak sedih dengan hidup, serta Alloh berikan kemantapan jiwa dalam hatinya akan surga yang sudah dijanjikan

Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Huud nayat 112)

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. (QS. Al Ahqof  ayat 13)

Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Al Ahqof  ayat 14)

MAKNA ISTIQOMAH
Istiqomah adalah berpegang teguh kepada syariat Allah seperti yang disyariatkanNya dan didahului dengan niat ikhlas karena-Nya.
1.     Istiqama, yastaqimu, istiqamatan yakni tegak lurus. (Bahasa)
2.     Sikap teguh pendirian dan selalu konsekuen (KBBI)
3.     Sebuah komitmen dan konsisten dalam tauhid, ibadah, dan akhlak (Istilah)
4.     Tidak menyekutukan Allah dengan sesuatupun (Abu Bakar Ash Shissiq)
5.     Anjuran untuk bisa bertahan dalam sebuah perintah dan larangan serta tidak berpaling dari yang lainnya (Umar ibn Khoththob)
6.     Ikhlas (Usman Ibn Affan)
7.     Tindakan melakukan suatu kewajiban (Ali Ibn Abi Tholib)
8.     Tiga makna dengan lisan, jiwa dan hati (Ibnu Abbas)
9.     Selalu taat kepada Allah Ta’ala baik melelui keyakinan, perkataan, maupun perbuatan (Imam Al-Qurthubi)

MANFAAT ISTIQOMAH
1. Senantiasa Dalam Kebaikan
2. Menghindarkan Yang Jahat
3. Tahan Terhadap Godaan

BIAR TETAP ISTIQOMAH
1. Ikhlaskan Niat
2. Lakukan Amalan Secara Bertahap
3. Bersabar
4. Berdoa

TIGA TINGKATAN ISTIQOMAH (Ibnul qoyyim)
1.     Beramal Dengan Rajin Tanpa Berlebih-lebihan
2.     Senantiasa Bisa Membedakan Antara Yang Dicintai Dan Yang
Dibenci
3. Selalu sadar dan menjauhi kelalaian

TIGA KABAR GEMBIRA AHLI ISTIQOMAH
1. Jangan kalian takut [ أَلَّا تَخَافُوا۟]Jangan takut amalmu ditolak karena Allah telah menerimanya (Imam Atha bin Abi Robah). Jangan takut masa depanmu di akhirat (Imam Ikrimah)
2. Jangan sedih[وَلَا تَحْزَنُوا۟] Jangan sedih memikirkan anak cucumu yang engkau tinggalkan karena Allah yang menanggung mereka (Imam Mujahid). Jangan sedih kamu memikrkan dosamu karena Allah telah mengampuninya (Imam Atha dan Ikrimah)
3. Bergembiralah dengan Jannah[ وَأَبْشِرُوا۟ بِٱلْجَنَّةِ].Dalam tafsir Al-Qurtubi Jannah itu adalah janji Allah. Janji Allah yang tidak pernah diingkari-Nya

DOA-DOA AGAR ISTIQOMAH
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْوَهَّابُ [٣:٨]
"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)".
 اللهم انت ربَّنَا فَارزُقنَا ٱلأِسْتقَـاٰمة
 "Ya Allah Engkaulah robb kami, berikan kepada kami Rezeki untuk terus istiqomah
اَللَّهُمَّ اَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
“Ya  Alloh tolonglah aku untuk berdzikir mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, serta beribadah dengan baik kepada-Mu”
اللهم انى اعوذ بك من الحَوْرِ بعد الكَوْرِ
“Ya Alloh aku berlindung kepada-Mu dari terpeleset (landasan yang benar} setelah mendapat hidayah”
         
AGAR ISTIQOMAH DI BULAN RAMADHAN
uاللهمّ قَد اَظَلَّنَا شَهْرُ رمضان- وَحضرَ فَسَلّمْهُ لَنَا وَسَلّمْنَا لَهُ-  وَارْزُقْنَا فِيْهِ اْلجِدَّ وَالاِجْتِهَادَ والقوَّةَ وَالَّنشَاطَ- وَاَعِذْنَا فِيْهِ مِنَ اْلِفَتن
“Ya Allah sesungguhnya bulan Ramadhan telah menaungi kami dan telah hadir karena itu sampaikan Ramadhan kepada kami dan selamatkan kami (hingga  mampu beramal) di bulan Ramadahan. Karuniakanlah kami kemampuan (berpuasa dan shalat) di dalamnya, berilah kami (semangat) kesungguhan, kekuatan, dan rajin (istiqomah dalam beribadah). Lindungilah kami dari berbagai fitnah (musibah, bencana, dan  azab yang mengancam kami) (Ibnu Rajab, Lathoiful Maarif halaman 196-203).” o


Oleh Alif Syarifuddin

Jumat, 03 Januari 2020

Tergelincir

Sejak zaman nabi Adam AS tugas utama iblis dan syetan adalah menggelincirkan hingga hari kiamat untuk menyesatkan manusia dari jalan yang benar dan mengajak nya ke neraka,  ingat lah sumpah serapah syetan sangat tegas dan jelas di hadapan Allah swt tentang  perrmusuhannya  dengan sang Kholiq serta ingkar , sekaligus berupaya keras agar bisa mengajak manusia sebanyak banyaknya menjadi insan yang tidak bersyukur.

"(Iblis) menjawab, Karena Engkau telah menghukum aku tersesat, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus,"(QS. Al-A'raf 7: Ayat 16)

"Ia (Iblis) berkata, Tuhanku, oleh karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, aku pasti akan jadikan (kejahatan) terasa indah bagi mereka di bumi dan aku akan menyesatkan mereka semuanya," (QS. Al-Hijr 15: Ayat 39)

"Sungguh,  syetan itu musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh, karena sesungguhnya setan itu hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala." (QS. Fatir 35: Ayat 6)

Harus bersikap hati-hati agar tidak tergoda oleh bujuk rayunya syetan. Mohon perlindungan kepada Allah SWT dan menjadi manusia yang selamat:

1. Kisah Nabi Adam as
"Dan Kami berfirman, Wahai Adam!  Tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga dan makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu. (Tetapi) janganlah kamu dekati pohon ini, nanti kamu termasuk orang-orang yang zalim!"

"Lalu,  syetan memerdayakan keduanya dari surga sehingga keduanya dikeluarkan dari (segala kenikmatan) ketika keduanya di sana (surga). Dan Kami berfirman, Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain. Dan bagi kamu ada tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai waktu yang ditentukan." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 35-36)

2.KETIKA VONIS DIBACAKAN.
"Dan syetan berkata ketika perkara (hisab) telah diselesaikan, Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekadar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku, tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku tidak dapat menolongmu, dan kamu pun tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu menyekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu. Sungguh, orang yang zalim akan mendapat siksaan yang pedih." (QS. Ibrahim 14: Ayat 22)

3. Cara syetan menggoda manusia

Ada beberapa cara yang  syetan lakukan untuk menggoda manusia agar tergelincir ke dalam jalan kemusyrikan  sehingga mereka lupa pada Allah dan malas beribadah sehingga  berakibat buruk, yaitu datang ny azab Allah SWT.

Adapun cara membuat manusia tergelincir ke dalam jalan kemusyrikan adalah:
1. Dihiaskan dengan sifat  kikir dan pelit .
(QS  2:219 dan 268)
2. Diberi kenikmatan dan maksiat dengan miras.(QS 5 :92)
3 .Diberi kebodohan dan was was dalam ibadah, sehingga manusia sering tidak lupa dan tidak khusyu.
(Qs An Nas 1-5)
4. Digoda  dengan ( wanita Qs 3:14)

Mohon perlindungan pada Allah agar terhindar dari godaan syetan dan sejenisnya supaya selamat  dunia akherat.
Qs AnNajm 32-34
Qs  41:36
QS  38: 74-84
QS   2:   208
QS 35 : 6
QS 36 : 60

GETUN
Oleh: Nashihudin

Kehidupan sehari-hari yang kita jalankan sekarang ini adalah sebuah sejarah yang akan tercatat, tersebut untuk dikembalikan pada setiap orang akan diminta pertanggungjawaban. Kematian akan menghampiri kita semua untuk memindahkan dari alam dunia ke alam akhirat.

"Setiap orang akan datang bersama (malaikat) penggiring dan (malaikat) saksi."

"Sungguh,  kamu dahulu lalai tentang (peristiwa) ini, maka Kami singkapkan tutup (yang menutupi) matamu, sehingga penglihatanmu pada hari ini sangat tajam." (QS Qhof :21-22)

Kehidupan manusia di dunia ini dihiasi oleh gula gula yang menggiurkan bagi sebagian orang. Karena semua gerakan mereka akan tercatat dan diminta pertanggungjawaban di akhirat nanti. Oleh karena itu jangan ada penyesalan setelah pindah alam.

Adapun orang orang yang getun dan menyesali digambarkan oleh Al-Qur'an:

1. Menyesal tidak mengambil jalan iman


"Dan orang-orang yang kafir, bagi mereka Neraka Jahanam. Mereka tidak dibinasakan hingga mereka mati, dan tidak diringankan dari mereka azabnya. Demikianlah Kami membalas setiap orang yang sangat kafir."

"Dan mereka berteriak di dalam neraka itu, Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami (dari neraka), niscaya kami akan mengerjakan kebajikan,  yang berlainan dengan yang telah kami kerjakan dahulu. (Dikatakan kepada mereka), Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu untuk dapat berpikir bagi orang yang mau berpikir, padahal telah datang kepadamu seorang pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami), dan bagi orang-orang zalim tidak ada seorang penolong pun." (QS. Fatir 35: Ayat 36-37)

2. Tidak beramal shaleh

"(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata,  Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia),"

"agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan.  Sekali-kali tidak!  Sungguh itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan." (QS. Al-Mu'minun 23: Ayat 99- 100)

3. Menyesal karena tidak segera berinfaq

"Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali), Ya Allah Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh."

"Dan Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang.  Dan Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Munafiqun 63: Ayat 11)


KEBENARAN AL QURAN
Oleh: Nashihudin
Al-Islam Telah berhasil mengeluarkan ummat manusia  belenggu kegelapan dari penyembahan berhala dengan mahluk kepada ajaran tauhid yang mengEsakan Allah SWT.

Orang orang yang masih belum sadar tentang kebenaran Al-Qur'an akan selalu diberi nasehat agar kembali pada jalan yang benar bertauhid kepada Allah SWT dan tunduk pada aturan-Nya. Era globalisasi harus nya semua orang bisa menggunakan akal fikir nya untuk melihat kebenaran Wahyu Al-Qur'an melalui ayat ayat qauniyah sebagai tanda kebesaran Nya dan ayat ayat qauliyah sebagai Wahyu tersurat dalam Al Qur'an.

"Katakanlah (Muhammad),  Wahai Ahli Kitab! Janganlah kamu berlebih-lebihan dengan cara yang tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti keinginan orang-orang yang telah tersesat dahulu dan (telah) menyesatkan banyak (manusia), dan mereka sendiri tersesat dari jalan yang lurus." (QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 77)

Ada beberapa nasehat untuk kita dalam rangka menjaga aqidah Islamiyyah menuju kemurnian tauhid:

1. Ada kekufuran

"Sungguh, telah kafir orang-orang yang berkata, Sesungguhnya Allah itu dialah Al-Masih putra Maryam. Padahal Al-Masih (sendiri) berkata, Wahai Bani Israil! Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu.Sesungguhnya barang siapa mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu." (QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 72)

2. PERNYATAAN Nabi ISA

"Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, "Wahai 'Isa putra Maryam! Engkaukah yang mengatakan kepada orang-orang, jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua Tuhan selain Allah?" ('Isa) menjawab, "Mahasuci Engkau, tidak patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada-Mu. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib." (QS. Al-Ma'idah: Ayat 116)

"Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (yaitu), "Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu," dan aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di tengah-tengah mereka. Maka setelah Engkau mengangkatku ke langit, Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkaulah Yang Maha Menyaksikan segala sesuatu." (QS. Al-Ma'idah: Ayat 117)

3. Jangan menjadi sasaran orang kafir

"Ya Allah  Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah dosa kami, ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkau Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana." (QS. Al-Mumtahanah: Ayat 5)
4. Meninggal kan tradisi orang orang Yahudi dan Nasrani dengan sabdanya rasululloh SAW

Dari Abu Sa’id Al-Khudriy, dari Nabi SAW, beliau bersabda,  “Sungguh kalian akan mengikuti langkah orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga walaupun mereka memasuki lubang biawak, kalian tetap mengikutinya”. Kami (shahabat) bertanya, “Ya Rasulullah,  apakah mereka itu kaum Yahudi dan Nashrani. Beliau bersabda,  “Lalu, siapa lagi ?”.  [HR. Bukhari juz 8, hal. 151]

Nashihudin
Ketua Majelis Tabligh PDM Jakarta Timur

Jumat, 13 Desember 2019

Dicari Ulama Waratsatul Anbiya!

Pada awalnya penegasan Allah dalam surah Fathir [35] ayat 28 bahwa orang yang paling takut kepada Allah itu adalah ulama. Penghargaan yang demikian tinggi terhadap ulama ditegaskan juga oleh berbagai Hadits Nabi. Salah satu Hadits Nabi  menyebutkan bahwa para ulama itu adalah pribadi-pribadi yang layak untuk mewarisi tugas-tugas para Nabi. Hadits dimaksud  adalah

: Artinya; ”Dari Abu Darda radliyallahu ‘anhu, Dia berkata: ”Sesungguhnya Aku mendengar Rasulullah saw bersabda,  siapa yang menempuh jalan yang di sana ia mencari ilmu Allah mudahkan jalan ke surga-Nya. Sesungguhnya malaikat  meletakkan sayap-sayapnya sebagai tanda dukungannya kepada pencari ilmu. Sesungguhnya mahkluk Allah yang ada di langit  dan di bumi, hingga ikan paus dilaut pun memanjatkan ampunan bagi pencari ilmu. Sesungguhnya keutamaan seorang berpengetahuan atas seorang tukang ibadah seperti keutamaan bulan atas seluruh benda bercahaya di langit. Sesungguhnya ulama itu para pewaris para nabi dan para nabi itu tidak mewarisi (uang) dinar dirham mereka hanya mewariskan ilmu siapa  yang mengambil ilmu ulama dia telah mendapat bagian yang banyak (HR Ibnu Majah).

Dengan terang Hadits di atas  menyebutkantiga hal sekaligus. Pertama, bahwa Allah dan malaikat serta makhluk Allah lainnya selalu memberikan dukungan  kepada seorang alim. Kedua, seorang alim dan sekian ulama dihargai tinggi oleh Allah sehingga kebaikan yang ditunaikannya  lebih berharga dari kebaikan tukang ibadah. Ketiga, tugas yang dilakukan ulama disamakan dengan tugas para nabi, yaitu  menebarkan pencerahan “ilmu” kepada orang banyak.

Mendefinisikan ulama

Kata ulama berasal dari bentukan isim fa’il kata  ‘alim yang bermula dari pola kata ‘alima ya’lamu ‘ilman yang bermakna mengetahui.Kata ‘alim secara leksikal pada mulanya  berarti orang yang tahu. Seorang dinyatakan mengetahui sesuatu manakala ia bertambah pengetahuannya. Untuk menambah pengetahuan seseorang mesti mencarinya (thalab al’ilm). Makna alim menurut Ibnu Abbas sebagaimana dikutip ‘Ikrimah,  adalah seorang yang tidak pernah menyekutukan Allah. Dia halalkan dan haramkan segala sesuatu berdasarkan ilmu- Nya, dia  senantiasa memelihara agama- Nya dan senantiasa berkeyakinan bahwa dia akan menemui-Nya dan seluruh amal  perbuatannya akan diperiksa-Nya. Sementara Said bin Jubair mendefinisikan seseorang memiliki al-khasyyah kepada Allah  manakala dalam dirinya ada defosit diri yang menghalanginya dari mendurhakai Allah. Karena itu pribadi yang berkualitas ulama sebagaimana yang disebutkan ayat dalam surah Fathir adalah seorang yang dengan pengetahuan yang diperolehnya menambah ketakutannya kepada- Nya karena dia meyakini bahwa pengetahuan yang dimilikinya semakin menyadarkannya bahwa Allah lah yang paling berkuasa dari segala sesuatu. Demikian Abul Fida Ismail Ibn Katsir ad-Dimasyqi dalam tafsirnya  (III: 545).

Sufyan ats-Tsawri pernah membagi  para ulama pada tiga kategori. Pertama‘alim billah alim biamrillaah. Yaitu ulama yang takut kepada Allah sekaligus tahu dengan  baik perintah-perintah Allah dan batasan-batasan yang dikerjakan dan  ditinggalkannya; Kedua alim billaah laysa bi’alim biamrillaah, yaitu ulama yang takut kepada Allah tetapi tidak mengetahui   erintah Allah dan batasan-batasan-Nya dan ketiga alim biamrillah laysa bi’alim billaah, ulama yang tahu perintah Allah tetapi  tidak takut kepada Allah. 

Ulama Waratsatul Anbiya
Hadits terbahas menegaskan bahwa ulama itu adalah pewaris para nabi. Ini  bermakna bahwa apa yang menjadi prasyarat kenabian yang melekat kepada para nabi sedikit banyak juga menjadi parasyarat keulamaan waratsat al-anbiya. Abu Bakar al-Jazairi menegaskan seorang diangkat menjadi nabi karena dalam dirinya   ditemukantiga karakteristik sekaligus, yaitu unsur al-mitsaaliyyah, syaraf an-naas dan amil az-zaman (al-Jaziri dalam Ilyas: 2002).  arena itu pula seseorang alim dinyatakan sebagai alim yang mewarisi para nabi manakala memenuhi tiga unsur tersebut.

Seorang ulama dinyatakan memenuhi unsur almitsaliyah manakala dia mempunyai aspek kemanusiaan yang utuh dan   aripurna yang ditunjukkan dengan fisik yang sehat dan kuat, akal intelektual yangkomprehensif serta dihiasi dengan jiwa yang mulia. Dalam kesehariannya dia menjaga perilakunya sehingga apa yang dilakukannya menjadi panutan dan teladan   agi orang di sekelilingnya. Saat seorang alim menjadi teladan itu terkadang dia harus dinilai aneh (gharib) oleh sekelilingnya.

Seorang ulama disebut memenuhi unsur syarafs an-naas manakala perilaku dirinya menyemburatkan seorang yang  berasal dari keturunan yang terhormat yang senantiasa menjaga dan menjauhkan diri  dari berbagai bentuk perbuatan yang merendahkan dan menistakan nilai-nilai kemanusiaan dirinya. Dalam hal ini biasanya seorang ulama adalah sorang yang dihormati oleh  khalayak banyak. Dengan pengertian ini, maka seorang alim atau ulama dapat saja muncul dari kalangan orang yang  miskin  namun memelihara kemuliaan jiwa sebagaimana terwakili dalam pribadi alim yang bernama Abul Walid al-Baji yang untuk tiba  pada derajat kealimannya dia merantau ke negari Damaskus, Mosul dan Mesir dengan penuh keprihatinan. Dalam beberapa fase pengembaraan keilmuannya al-Baji terpaksa sempat harus bekerja sebagai seorang satpam di Baghdad demi mendapatkan upah supaya dapat terus mencari ilmu (Muhammad:2001).

Seorang ulama dikatakan memenuhi unsur amil  az-zaman ketika pelayanannya kepada orang banyak benar-benar dirasakan kehadirannya. Keberadaannya di tengah umatnya  dilakukan dalam bentuk perbaikan tatanan sosial masyarakat, tatanan akhlak bahkan tatanan ekonomi. Dalam hal ini seorang  alim berarti seorang yang bukan orang pada umumnya sebab jika kualitas dirinya sama dengan yang lainnya maka orang  banyak pun akan memandangnya sebagai pribadi yang lumrah saja. Tetapi ketidaklumrahan ulama ini tidak berarti dia tidak  dekat dengan umatnya pada saat yang sama meskipun dia dekat dengan umatnya tidak bermakna dia menjual nilai  eulamaannya demi mengikuti opini kebanyakan sehingga menyesuaikan diri dengan keinginan sesaat umatnya.

Dengan  illustrasi demikian, dapatlah dipahami jika dalam blantika sejarah ditemukan fakta bahwa para ulama terkadang lebih diakui  otoritasnya dari penguasa. Perhatikan misalnya ulama semacam Abu  Hamid al-Isfiriyani yang dengan leluasa dapatberkata  epada Khalifah “Saya sangat menyadari bahwa Anda tidak akan dapat mencopot kekuasaan yang Allah anugerahkan kepada  aya. Tetapi jika saya kirimkan surat dengan dua tiga kalimat saja kepada  rakyat Khurasan saya dapat mencopot Anda.

Mewaspadai pengkhianatan ulama

Sejarah mencatat, sebagaimana halnya para nabi dalam melaksanakan tugas risalah kenabiannya senantiasa menjaga  kemandiriannya. Demikian halnya denganpara ulama juga selalu memelihara  ndefendensinya. Jika seorang Muhammad saw berjual beli di pasar sebagaimana diabadikan Al-Qur’an dengan kalimat yamsyi  il aswaq, untuk memelihara kemandirian itu para ulama pun memiliki mata pencaharian  sendiri. Abu Hanifah, pada saat tidak  sedang menelisik sumber-sumber ilmu atau sibuk memberikan fatwa, ia membuka baqalah tokonya dan melayani para pembeli  kain yang dijualnya. Sedangkan seorang alim bernama Sari as-Saqathi, untuk menopang aktivitas keulamaannya dia menjadi  enjual bahan bangunan di pasar. Dalam tradisi Muhammadiyah pun hal yang sama dilakukan para ustadz dan kiainya yang pionernya adalah KH Ahmad Dahlan yang  berjualan batik.

Dengan karakteristik sebagaimana telah disebutkan di atas maka  tugas ulama H A D I T S  sangatlah beratnya. Tidak ringannya tugas ulama karena sebagai manusia biasa dia dituntut untuk  menampilkan dirinya sebagai orang yang dijadikan contoh sekaligus diperlukan  oleh orang banyak. Di tengah idealita  keulamaan yang sejatinya mewarisi nilai-nilai kenabian ditengarai ada oknum ulama yang menjual dirinya untuk  berselingkuh  dengan kekuasaan dan opini khalayak banyak. Ulama semacam ini dalam bahasa Julien Benda (1950) adalah ulama yang   elakukan pengkhianatan terhadap tugas mulia keulamaannya atau dalam bahasa para ahli etika disebut sebagai ulama as-suu,  lama yang mengusung  kejahatan. Jika surah Fathir ayat 28 yang menjadi landasannya mereka yang berselingkuh dengan   erbagai “kepentingan” ini tidak lah pantas disebut ulama. Dalam kategori Sufyan ats-Tsawri ulama ini, adalah ulama yang  mengerti segala sesuatu yang  terkait dengan aturan tapi tidak takut kepada Allah. Kelompok ulama seperti ini patut diwaspadai karena biasa melakukan “konsesi- konsesi” dengan berbagai kepentingan  di tengah masyarakat dan “berkolaborasi” dengan  berbagai kekuatan yang dimanfaatkan dan memanfaatkannya. Jika dibiarkan pelan namun pasti dapat menyesatkan orang  banyak yang berujung pada runtuhnya sendi-sendi kehidupan dan  ambruknya nilai-nilai kemanusiaan. Karena itulah tulisan kali  ini mengingatkan para pembelajar semua untuk mencari dan memastikan keberadaan para ulama waratsatul anbiya itu! 

Wallahu A’lam bish-Shawab


WAWAN GUNAWAN ABDUL WAHID


Alumni Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Garut, 
Dosen Uin Sunan Kalijaga Yogyakarta