Jumat, 14 Februari 2020

Jadikanlah kita terkenal di langit

Oleh: Drs. H. Alif Syarifudin, M. Hum

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ ۚ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ

Qs. 14: 27
27. Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh (dalam kehidupan) di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.

Tafsirnya;
Ayat ini mengajarkan kita bagaimana agar saat kita meninggal dunia bisa mengakhirinya dg kalimat
لااله الا الله
Sebelum hamba yg beriman meninggal dunia turunlah para malaikat dari langit yg berparas putih cerah bagaikan sinar matahari. Para malaikat membawa kain kafan dari surga beserta hanuth (resep bak minyak wangi khusus dari surga) malaikat datang sebanyak sejauh mata memandang.

1. Datanglah malakul maut sambil berkata, "keluarlah wahai ruh yg baik, penuhi panggilan Alloh utk mendapat ampunan dan ridho-Nya"
2. Ruh orang beriman menjawab, "Aku siap memenuhi seruanmu"
3. Keluarlah ruh orang beriman bagaikan tetesan air dari mulut tempat air
4. Ketika ruh orang beriman keluar, seketika itu pula para Malaikat yang ada di dekatnya, langsung mengambil dan meletakkan ruhnya ke dalam kain kafan dari surga dan hanuuth
5. Ruh org beriman dibawanya ke langit. Sepanjang perjalanan antara bumi dan langit sekumpulan malaikat lain bertanya, "Siapakah ruh yang sangat wangi ini?" Kemudian para malaikat yg membawa menyebutkan nama org yg punya ruh ini dg nama yg paling baik yg pernah diberikan manusia semasa hidupnya.
6. Setibanya di langit pertàma, malaikat pengiring ruh org beriman minta dibukakan pintu langit. Karena ruh itu sdh terkenal di langit maka dibukalah pintu langit pertama, kemudian secara bersama-sama mengantarkan ke langit berikutnya hingga langit ke tujuh.
7. Alloh berfirman,
Tulislah catatan hidup hamba-KU ini di  dalam Surga
'Illiyyin (tempat yg paling tinggi), lalu kembalilah ruh itu ke bumi atas perintah Alloh
8. Setelah ruh itu dikembalikan ke jasadnya, datanglah dua malaikat. Itulah malaikat Munkar Nakir.....
Kedua Malaikat itu mendudukannya seraya bertanya,......

bersambung ...

Kamis, 06 Februari 2020

Eksistensi Tuhan, Surga dan Neraka

Beberapa waktu yang lalu, dalam sebuah acara wawancara eksklusif, yang diunggah dalam You Tube, ada seorang pemuda yang menyatakan bahwa dirinya tidak percaya dengan adanya Tuhan, apalagi surga dan neraka. Hal ini dapat dinilai cukup mengejutkan, karena latar belakang dari pemuda yang mengucapkan kata tersebut memiliki keterkaitan yang cukup sangat erat dengan Islam. Akan tetapi, menurut pernyataannya, karena ada suatu peristiwa yang sangat membekas di dalam hatinya, maka hal itu membuatnya tidak lagi mempercayai adanya Tuhan, bahkan mengingingkari adanya surga dan neraka.
Lalu, pada suatu kesempatan, ada sebuah pertanyaan dari pewawancara tentang perihal gadis yang ingin dinikahi oleh pemuda tersebut. Jawaban yang keluar dari pemuda tersebut cukup mencenggangkan. Pemuda tersebut menyelipkan kata “Aamiin” pada jawaban yang diutarakannya. Hal ini seakan menggambarkan bahwa beliau sedang sangat berharap, tetapi beliau tidak bisa menjamin sepenuhnya itu terjadi, maka muncullah kata “Aamiin”. Padahal sebagai seorang yang menyatakan dirinya tidak percaya dengan keberadaan Tuhan, kata tersebut tidaklah pantas keluar dari perkataannya. Hal ini jelas karena kata “Aamiin” adalah sebuah doa harapan seseorang agar keinginannya terpenuhi, maka otomatis kata tersebut pastinya ditujukan kepada “Sosok” yang Maha Mampu untuk mengabulkan semuanya. Oleh karena itu, ketika beliau mengatakan kata “Aamiin”, kepada siapakah kata tersebut ditujukan? padahal beliau sendiri tidak mempercayai adanya Tuhan.
Melalui kisah tersebut, banyak pelajaran yang dapat diambil darinya. Pelajaran pertama, bahwa manusia adalah makhluk yang lemah. Bagaimanapun seorang manusia mengira bahwa dirinya hebat, kuat dan bahkan tak terkalahkan, tidak akan mengubah fakta bahwa manusia adalah sosok makhluk yang lemah. Bahkan dalam ilmu sosiologi, manusia dikatakan sebagai makhluk social, yaitu makhluk yang tidak dapat hidup tanpa bantuan makhluk atau manusia lainnya. Dalam sejarah manusia, dari manusia paling awal, yaitu Nabi Adam as, hingga sekarang tidak ada seorang manusiapun yang dapat hidup di tengah gurun pasir sendirian. Manusia pasti membutuhkan makhluk atau manusia lain untuk hidup, bahkan Nabi Adam as pun membutuhkan istrinya Hawa untuk hidup. Hal ini dibuktikan dengan pencarian Nabi Adam as terhadap Hawa. Begitu pula ketika sakit, manusia butuh pertolongan dari manusia lain, bahkan untuk makan dan minum serta pakaian yang dikenakan, tidak dapat dihitung seberapa banyak manusia yang terlibat dalam prosesnya. Hal ini menggambarkan dengan jelas bahwa manusia adalah makhluk yang lemah, bahkan untuk kehidupan sehari-harinya manusia membutuhkan bantuan makhluk atau manusia lain, apalagi dalam urusan kepuasan dan ketenangan batin. Sangatlah jelas bahwa manusia sangat membutuhkan “Sosok” yang menjadi tempat bergantung, sehingga kepuasan, ketenangan dan kebutuhan batin serta jasmani terpenuhi. “Sosok” yang mampu dijadikan tempat bergantung itulah yang disebut Tuhan. Oleh karena itu, tidaklah dapat dipungkiri bahwa Tuhan itu ada, karena jelas manusia sesombong apapun dia, dengan menganggap dirinya tidak butuh “Sosok” yang dianggap Tuhan, pada suatu titik, manusia akan membutuhkan “Sosok” yang dianggap mampu untuk menyelesaikan permasalahan hidup dan menjadi tempat bergantungnya.
Adapun Tuhan yang tepat menjadi tempat bergantung manusia pastinya haruslah lebih baik dalam segala hal, daripada manusia itu sendiri, baik itu dalam hal kemampuan, kekayaan dan sebagainya. Hal ini dikarenakan Tuhan akan menjadi tempat meminta manusia dalam hal apapun. Oleh karena itu, Tuhan haruslah dianggap luar biasa oleh manusia yang akan memintanya. Sesuatu yang dianggap biasa, tidaklah pantas disebut Tuhan, sebagai tempat bergantung dalam segala hal. Oleh karena itu, ketika manusia takjub dengan sesuatu yang dianggapnya mampu untuk memberikan kehidupan dan menghadirkan keajaiban, itulah “Sosok” yang dianggap Tuhan.
Berdasarkan hal tersebut, maka manusia banyak yang menjadikan matahari sebagai Tuhan, karena tanpa matahari tidak ada kehidupan di dunia ini. Begitu juga bulan yang indah, bintang, hutan dan laut yang memberikan kehidupan bagi orang-orang di sekitarnya, bahkan manusia yang memiliki keagungan dan kekuasaan, serta manusia yang dikatakan sebagai anak Tuhan, dan sebagainya. Dari semua yang sudah disebutkan dan dianggap sebagai Tuhan oleh manusia, jika diperhatikan dengan seksama, maka semua itu tidaklah pantas disebut Tuhan. Hal ini dikarenakan setiap dari sesuatu yang telah disebutkan, membutuhkan sesuatu yang lain untuk memberikan manfaat atau membuat keajaiban bagi manusia. Matahari tidak akan mampu untuk membuat tumbuhan, hewan, bahkan manusia untuk hidup, jika tidak ada air. Begitu juga bulan yang tidak akan menjadi indah tanpa bantuan matahari, hutan dan laut tanpa bantuan dari matahari tidak akan memberikan manfaat bagi manusia. Pada intinya, jika semua itu sama dengan manusia yang tidak mampu hidup dengan bantuan dari makhluk atau manusia lain, pantaskah sesuatu itu disebut dan dianggap sebagai Tuhan? Tentu saja tidak.
Berdasarkan kesepakatan tentang deinisi Tuhan, maka dalam agama Islam, “Sosok” Tuhan disebutkan secara sederhana dan gamblang, tetapi sempurna. Artinya dalam agama Islam, “Sosok” Tuhan adalah sama dengan definisi Tuhan yang telah disepakati, meskipun dengan penjelasan yang sederhana. Hal ini berdasarkan sumber pedoman hidup utama umat Islam itu sendiri, yaitu Al-Qur’an, dalam surat Al-Ikhlas ayat 3 dan 4, yaitu “Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan”, artinya Dia adalah “Sosok” yang Tunggal, tidak hadir karena ada suatu sebab. “Dan tiada satupun yang menyerupai-Nya”, artinya dalam segala hal Dia adalah “Sosok” yang berbeda dari siapapun. Ciri-ciri inilah yang pantas disebut dengan Tuhan, yang dalam Islam disebut Allah yang Maha Suci dari kekurangan, dan Maha Tinggi kedudukan, derajat dan keagungan-Nya dibandingkan dari semua benda atau makhluk yang disebut tuhan.
Adapun pelajaran kedua yang dapat diambil dari kisah tersebut adalah surga dan neraka pastilah ada. Setiap orang pastilah dituntut untuk melakukan keadilan atau menempatkan sesuatu pada tempatnya. Lalu bagaimana dengan Allah SWT? Pastinya Allah SWT juga memiliki keadilan. Jika keadlian manusia terkadang terasa janggal , maka Allah SWT sebagai Tuhan pastinya sifat  keadilan-Nya lebih baik atau sempurna daripada siapapun, termasuk manusia. Oleh karena itu, surga dan neraka adalah salah satu bentuk keadilan Allah SWT. Hal ini dikarenakan Allah SWT tidak mungkin menyamakan seorang yang berbuat kebaikan dengan keburukan. Dua hal ini jelas sangatlah bertentangan, sehingga tidak mungkin Allah SWT menyamakan kedua hal itu. Allah SWT sebagai pencipta seluruh alam semesta mempunyai hukum atau aturan main, sehingga haruslah diikuti aturan mainnya, karena memang Allah SWT lah yang menciptakan permainan ini. Ketika ada seseorang menyalahi sebuah aturan yang sudah Allah SWT buat, adalah sebuah keadilan dari Allah SWT, ketika Dia menyatakan bahwa seseorang tersebut telah bersalah, begitupun ketika seseorang melakukan permainan ini dengan benar, dengan tidak menyalahi hukum atau aturan main, maka adalah sebuah keadilan dari Allah SWT, ketika Dia menyatakan bahwa seseorang tersebut tidak bersalah. Lalu, sebagai konsekuensi bagi orang yang telah menyalahi aturan, Allah SWT akan menghukumnya dengan memasukkannya ke dalam neraka, begitu pula ketika seseorang yang melakukan permainan dengan benar, maka konsekuensinya Allah SWT akan memberikan hadiah untuknya, dengan memasukkannya ke dalam surga. Bukankah ini semua masuk akal?


Muhammad Fajrul Falakh W, S.Pd.I.
Penulis pengasuh Ponpes MBS
Lasem – Rembang.

Jumat, 17 Januari 2020

Dahsyatnya Kalimat Laa Ilaaha Illallah


Pada dasarnya, setiap orang akan merasakan keinginan untuk lebih dekat dengan orang yang dicintai atau disukainya. Sebagaimana rasa ingin selalu dekatnya anak terhadap ibunya, begitupun sebaliknya. Hal ini memanglah manusiawi, karena memang manusia adalah makhluk yang memiliki emosi, sehingga muncullah dalam hati manusia rasa suka, sedih, cinta, marah dan sebagainya. Adapun langkah kongkrit atau nyata dari perasaan emosional cinta adalah manusia ingin selalu mendekati orang yang dicintainya. Hal ini berlaku bagi semua orang, tak terkecuali Nabi Musa as.

Nabi Musa as, banyak di antara kalangan umat Islam yang mengenal beliau adalah pribadi yang “keras” dan “temperamental”. Hal ini memang tidak dapat dipungkiri, karena memang bisa dikatakan benar adanya. Namun, kata “keras” dan “temperamental” yang disematkan pada Nabi Musa as sekonyong-konyong dikonotasikan atau dimaknai sebagai pribadi atau watak yang tercela. Hal ini dikarenakan latar belakang masyarakat dakwahnya yang sebagian besar dikenal juga sebagai “pembangkang ulung”, sehingga apabila Nabi Musa as tidak “keras” dalam mendidik mereka, dan tidak memiliki sifat “temperamental” ketika sebagian masyarakat dakwahnya melecehkan Allah SWT, maka yang terjadi adalah bertambahnya kesombongan masyarakat dakwahnya. Oleh karena itu, konotasi atau makna pribadi yang “keras” dan “temperamental” pada Nabi Musa as sebenarnya adalah wujud nyata dari perasaan emosional cintanya kepada Allah SWT. Nabi Musa as tidak mau masyarakat dakwahnya menjauh dari Dzat yang sangat dicintainya itu. Nabi Musa as tidak mau Dzat yang sangat dicintainya atau perintah dan aturan-Nya dilecehkan oleh masyarakat dakwahnya sendiri.
Meskipun Nabi Musa as sudah berusaha untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT lewat dakwahnya, yaitu dengan mendidik masyarakat dakwahnya, Nabi Musa as tidak ingin berpuas diri. 

Beliau masih ingin lebih dekat lagi dengan Dzat yang sangat dicintainya itu. Hal ini wajar, karena memang Nabi Musa as, selain dengan dakwahnya, yang menjadi cara untuk mendekatkan dirinya kepada Allah SWT, adalah salah satu dari dua Nabi dan Rasul yang diberikan keistimewaan untuk berkomunikasi langsung dengan Allah SWT, Tuhan semesta alam dan yang mengutusnya untuk menjadi penerang umat. Oleh karena itu, adalah sebuah kewajaran ketika seseorang mempunyai keistimewaan pada dirinya, seseorang tersebut ingin menjadi lebih baik daripada orang lain, dalam makna kebaikan, bukan sebaliknya.

Rasulullah saw mengabadikan salah satu percakapan antara Nabi Musa as dengan Allah SWT, tentang harapan Nabi Musa as agar Allah SWT memberikan sesuatu yang dapat membuatnya lebih dekat lagi kepada-Nya. Harapan beliau, yaitu Nabi Muhammad saw, pastinya ketika mengisahkan percakapan antara Nabi Musa as dengan Allah SWT, akan memberikan dampak yang baik bagi seluruh umatnya. Oleh karena itu, sebagai umat Nabi Muhammad saw sudah sepatutnya menghayati dan mentadabburi kisah Nabi Musa as, yang diceritakan oleh nabi Muhammad saw dalam hadisnya. Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al-Khudriy, hingga tertulis dalam kitab hadis Hakim dan Ibnu Hibban. Nabi Musa as berkata: “Wahai Tuhanku, ajarkanlah kepadaku akan sesuatu, sehingga dengan sesuatu itu aku berdzikir dan berdoa kepada-Mu”, kemudian Allah SWT berfirman: “Hai Musa, ucapkanlah “Laa Ilaaha Illallah”. Musa berkata: “Wahai Tuhanku, setiap hamba-Mu mengucapkan hal ini. Allah SWT berfirman: “Hai Musa, seandainya langit yang berjumlah tujuh serta seluruh penghuninya, selain Aku, dan bumi yang berjumlah tujuh diletakkan dalam satu timbangan, kemudian kalimat “Laa Ilaaha Illallaah” dalam satu timbangan lainnya, maka kalimat “Laa Ilaaha Illallaah” akan lebih berat timbangannya.

Hadis ini menggambarkan betapa agungnya kalimat tauhid, bahkan untuk seluruh alam semesta kecuali Allah SWT tidaklah sebanding dengannya. Padahal untuk mengarungi seluruh alam semesta tidaklah cukup dengan waktu setahun atau dua tahun, tetapi lebih dari puluhan ribu tahun lamanya. Bahkan akal seorang manusia sendiri tidak akan mampu untuk membayangkan bagaiman batas dari alam semesta itu. Hal ini menggambarkan betapa besarnya kalimat tersebut, sehingga dengan langit dan bumi serta segala isinya lebih agung keagungannya. Selain itu, kalimat tauhid adalah sesuatu yang paling agung di sisi Allah SWT. Hal ini berdasarkan jawaban Allah SWT atas aduan Nabi Musa as yang mengatakan bahwa setiap hamba Allah SWT juga pasti mengucapkan kalimat tauhid. Selain menjadi kalimat yang paling agung di sisi Allah SWT, kalimat tauhid adalah ucapan yang paling baik untuk mengingat dan berdoa kepada Allah SWT. Ketika ada suatu ucapan yang paling disuaki oleh Allah SWT, kemudian seseorang menggunakannya untuk berdoa, maka adalah sebuah keniscayaan Allah SWT menolak doa seseorang tersebut. Oleh karena itu, gunakanlah kesempatan ini untuk menambah pahala dan keterkabulan doa, yaitu dengan mengucapkan kalimat tauhid.

Meskipun kalimat tauhid adalah ucapan yang sederhana, bukan berarti saat mengucapkan kalimat tersebut tanpa adanya sebuah penghayatan alias sebuah respon biasa. Hal ini dikarenakan pada kalimat tersebut menandakan bahwa seorang hamba benar-benar menyatakan diri bahwa dia tidak menyembah Tuhan selain Allah SWT, serta bersedia untuk mengikuti seluruh tuntunan-Nya dan menjauhi larangan-nya. Oleh karena itu, meskipun ketika seorang hamba sudah menyatakan ucapan itu berkali-kali dalam doanya, tetapi dia masih berbuat syirik, maka jelas Allah SWT tidak akan mengabulahn doanya. Begitu juga ketika seorang hamba sudah menucapkan kalimat tauhid di setiap doanya, tetapi dia masih memakan barang-barang yang bersifat haram, yang termasuk larangan Allah SWT, maka sudah pasti Allah SWT tidak akan mengabulkan doanya. Berdasarkan hal ini, maka yang menjadi cermin ketika doa dan keberkahan tidak didapati dalam diri, adalah hati dan diri sendiri, sudahkah diri ini menyatakan dengan benar-benar kalimat tauhid ataukah belum? 

Muh. Fajrul Falakh W
Pengasuh Ponpes MBS Lasem Rembang

Jumat, 10 Januari 2020

Harapan Keberkahan Tahun 2020 Dengan Istiqomah

Membuka lembaran baru di tahun ini adalah ibarat menambah file baru kehidupan. File-file lama telah kita torehkan dengan segala suka dan duka. Agar file baru penuh keberkahan penuhi dengan semangat Istiqomah menuju Husnul Khotimah. Alloh Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
          Tahun lalu penuh dengan file-file. File kehidupan tersebut ada sebagian yang mengandung virus. Dosa adalah virus, kemaksiyatan adalah virus, menyakiti, tersakiti, memfitnah, difitnah, mencaci, dicaci, sedih, iri, dengki, dendam, dll. Itu semua virus. Membersihkan file lama yang penuh dengan virus itulah yang dimaksud: waltandhur nafsun maa qoddamat:
memperhatikan apa yang telah diperbuat. Untuk masa depan yang lebih baik.
                                      Masa depan yang penuh tantangan agar berkah bekalnya adalah Istiqomah. Alloh subhanahu Wata’ala berfirman dalam surat 72 ayat 16 

Dan bahwasanya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak). (Rezeki yang melimpah ruah bagai air yang mengalir sangat deras) Orang yang Istiqomah dalam perjalanan hidupnya akan mendapatkan rezeki bagaikan air yang mengalir deras.

Juga dalam surat lain, Alloh berfirman,
 Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu".(QS. Fushshilat ayat 30)

Huruf Nashob dan berfungsi penguat (yang menunjukkan sesungguhnya) yang membuat isim menjadi manshub dan khobarnya marfu ditetapkan atas fathah suatu ketetapan baginya.
Huruf yang berfungsi memfathahkan bermakna membuka atau mengawali suatu perbuatan  untuk perbuatan selanjutnya.
قَالُوا۟ =
Mereka mengucapkan. Mengucapkan dengan kata-kata yang baik itu sebagai penguatan jiwa atau motivasi. Ucapan yang diulang-ulang itu akan menggerakkan harapan keberkahan. Dalam bahasa lainnya adalah doa.
رَبُّنَا ٱللَّهُ=
Robb kami adalah Alloh. Rububiyah berarti Alloh Robb yang merawat, yang menjaga saat sakit, yang memberi dan memenuhi kebutuhan, mengampuni dosa.
Segala aktifitas hidup ini yang akan dinilai adalah di hadapan Alloh adalah Ikhtiyarnya (lihat QS. 7: 172) dengan demikian Alloh turunkan Malaikat spesial yang selalu menemani sampai kita wafat.

Tenang, tidak sedih dengan hidup, serta Alloh berikan kemantapan jiwa dalam hatinya akan surga yang sudah dijanjikan

Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Huud nayat 112)

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. (QS. Al Ahqof  ayat 13)

Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Al Ahqof  ayat 14)

MAKNA ISTIQOMAH
Istiqomah adalah berpegang teguh kepada syariat Allah seperti yang disyariatkanNya dan didahului dengan niat ikhlas karena-Nya.
1.     Istiqama, yastaqimu, istiqamatan yakni tegak lurus. (Bahasa)
2.     Sikap teguh pendirian dan selalu konsekuen (KBBI)
3.     Sebuah komitmen dan konsisten dalam tauhid, ibadah, dan akhlak (Istilah)
4.     Tidak menyekutukan Allah dengan sesuatupun (Abu Bakar Ash Shissiq)
5.     Anjuran untuk bisa bertahan dalam sebuah perintah dan larangan serta tidak berpaling dari yang lainnya (Umar ibn Khoththob)
6.     Ikhlas (Usman Ibn Affan)
7.     Tindakan melakukan suatu kewajiban (Ali Ibn Abi Tholib)
8.     Tiga makna dengan lisan, jiwa dan hati (Ibnu Abbas)
9.     Selalu taat kepada Allah Ta’ala baik melelui keyakinan, perkataan, maupun perbuatan (Imam Al-Qurthubi)

MANFAAT ISTIQOMAH
1. Senantiasa Dalam Kebaikan
2. Menghindarkan Yang Jahat
3. Tahan Terhadap Godaan

BIAR TETAP ISTIQOMAH
1. Ikhlaskan Niat
2. Lakukan Amalan Secara Bertahap
3. Bersabar
4. Berdoa

TIGA TINGKATAN ISTIQOMAH (Ibnul qoyyim)
1.     Beramal Dengan Rajin Tanpa Berlebih-lebihan
2.     Senantiasa Bisa Membedakan Antara Yang Dicintai Dan Yang
Dibenci
3. Selalu sadar dan menjauhi kelalaian

TIGA KABAR GEMBIRA AHLI ISTIQOMAH
1. Jangan kalian takut [ أَلَّا تَخَافُوا۟]Jangan takut amalmu ditolak karena Allah telah menerimanya (Imam Atha bin Abi Robah). Jangan takut masa depanmu di akhirat (Imam Ikrimah)
2. Jangan sedih[وَلَا تَحْزَنُوا۟] Jangan sedih memikirkan anak cucumu yang engkau tinggalkan karena Allah yang menanggung mereka (Imam Mujahid). Jangan sedih kamu memikrkan dosamu karena Allah telah mengampuninya (Imam Atha dan Ikrimah)
3. Bergembiralah dengan Jannah[ وَأَبْشِرُوا۟ بِٱلْجَنَّةِ].Dalam tafsir Al-Qurtubi Jannah itu adalah janji Allah. Janji Allah yang tidak pernah diingkari-Nya

DOA-DOA AGAR ISTIQOMAH
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْوَهَّابُ [٣:٨]
"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)".
 اللهم انت ربَّنَا فَارزُقنَا ٱلأِسْتقَـاٰمة
 "Ya Allah Engkaulah robb kami, berikan kepada kami Rezeki untuk terus istiqomah
اَللَّهُمَّ اَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
“Ya  Alloh tolonglah aku untuk berdzikir mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, serta beribadah dengan baik kepada-Mu”
اللهم انى اعوذ بك من الحَوْرِ بعد الكَوْرِ
“Ya Alloh aku berlindung kepada-Mu dari terpeleset (landasan yang benar} setelah mendapat hidayah”
         
AGAR ISTIQOMAH DI BULAN RAMADHAN
uاللهمّ قَد اَظَلَّنَا شَهْرُ رمضان- وَحضرَ فَسَلّمْهُ لَنَا وَسَلّمْنَا لَهُ-  وَارْزُقْنَا فِيْهِ اْلجِدَّ وَالاِجْتِهَادَ والقوَّةَ وَالَّنشَاطَ- وَاَعِذْنَا فِيْهِ مِنَ اْلِفَتن
“Ya Allah sesungguhnya bulan Ramadhan telah menaungi kami dan telah hadir karena itu sampaikan Ramadhan kepada kami dan selamatkan kami (hingga  mampu beramal) di bulan Ramadahan. Karuniakanlah kami kemampuan (berpuasa dan shalat) di dalamnya, berilah kami (semangat) kesungguhan, kekuatan, dan rajin (istiqomah dalam beribadah). Lindungilah kami dari berbagai fitnah (musibah, bencana, dan  azab yang mengancam kami) (Ibnu Rajab, Lathoiful Maarif halaman 196-203).” o


Oleh Alif Syarifuddin

Jumat, 03 Januari 2020

Tergelincir

Sejak zaman nabi Adam AS tugas utama iblis dan syetan adalah menggelincirkan hingga hari kiamat untuk menyesatkan manusia dari jalan yang benar dan mengajak nya ke neraka,  ingat lah sumpah serapah syetan sangat tegas dan jelas di hadapan Allah swt tentang  perrmusuhannya  dengan sang Kholiq serta ingkar , sekaligus berupaya keras agar bisa mengajak manusia sebanyak banyaknya menjadi insan yang tidak bersyukur.

"(Iblis) menjawab, Karena Engkau telah menghukum aku tersesat, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus,"(QS. Al-A'raf 7: Ayat 16)

"Ia (Iblis) berkata, Tuhanku, oleh karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, aku pasti akan jadikan (kejahatan) terasa indah bagi mereka di bumi dan aku akan menyesatkan mereka semuanya," (QS. Al-Hijr 15: Ayat 39)

"Sungguh,  syetan itu musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh, karena sesungguhnya setan itu hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala." (QS. Fatir 35: Ayat 6)

Harus bersikap hati-hati agar tidak tergoda oleh bujuk rayunya syetan. Mohon perlindungan kepada Allah SWT dan menjadi manusia yang selamat:

1. Kisah Nabi Adam as
"Dan Kami berfirman, Wahai Adam!  Tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga dan makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu. (Tetapi) janganlah kamu dekati pohon ini, nanti kamu termasuk orang-orang yang zalim!"

"Lalu,  syetan memerdayakan keduanya dari surga sehingga keduanya dikeluarkan dari (segala kenikmatan) ketika keduanya di sana (surga). Dan Kami berfirman, Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain. Dan bagi kamu ada tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai waktu yang ditentukan." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 35-36)

2.KETIKA VONIS DIBACAKAN.
"Dan syetan berkata ketika perkara (hisab) telah diselesaikan, Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekadar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku, tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku tidak dapat menolongmu, dan kamu pun tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu menyekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu. Sungguh, orang yang zalim akan mendapat siksaan yang pedih." (QS. Ibrahim 14: Ayat 22)

3. Cara syetan menggoda manusia

Ada beberapa cara yang  syetan lakukan untuk menggoda manusia agar tergelincir ke dalam jalan kemusyrikan  sehingga mereka lupa pada Allah dan malas beribadah sehingga  berakibat buruk, yaitu datang ny azab Allah SWT.

Adapun cara membuat manusia tergelincir ke dalam jalan kemusyrikan adalah:
1. Dihiaskan dengan sifat  kikir dan pelit .
(QS  2:219 dan 268)
2. Diberi kenikmatan dan maksiat dengan miras.(QS 5 :92)
3 .Diberi kebodohan dan was was dalam ibadah, sehingga manusia sering tidak lupa dan tidak khusyu.
(Qs An Nas 1-5)
4. Digoda  dengan ( wanita Qs 3:14)

Mohon perlindungan pada Allah agar terhindar dari godaan syetan dan sejenisnya supaya selamat  dunia akherat.
Qs AnNajm 32-34
Qs  41:36
QS  38: 74-84
QS   2:   208
QS 35 : 6
QS 36 : 60

GETUN
Oleh: Nashihudin

Kehidupan sehari-hari yang kita jalankan sekarang ini adalah sebuah sejarah yang akan tercatat, tersebut untuk dikembalikan pada setiap orang akan diminta pertanggungjawaban. Kematian akan menghampiri kita semua untuk memindahkan dari alam dunia ke alam akhirat.

"Setiap orang akan datang bersama (malaikat) penggiring dan (malaikat) saksi."

"Sungguh,  kamu dahulu lalai tentang (peristiwa) ini, maka Kami singkapkan tutup (yang menutupi) matamu, sehingga penglihatanmu pada hari ini sangat tajam." (QS Qhof :21-22)

Kehidupan manusia di dunia ini dihiasi oleh gula gula yang menggiurkan bagi sebagian orang. Karena semua gerakan mereka akan tercatat dan diminta pertanggungjawaban di akhirat nanti. Oleh karena itu jangan ada penyesalan setelah pindah alam.

Adapun orang orang yang getun dan menyesali digambarkan oleh Al-Qur'an:

1. Menyesal tidak mengambil jalan iman


"Dan orang-orang yang kafir, bagi mereka Neraka Jahanam. Mereka tidak dibinasakan hingga mereka mati, dan tidak diringankan dari mereka azabnya. Demikianlah Kami membalas setiap orang yang sangat kafir."

"Dan mereka berteriak di dalam neraka itu, Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami (dari neraka), niscaya kami akan mengerjakan kebajikan,  yang berlainan dengan yang telah kami kerjakan dahulu. (Dikatakan kepada mereka), Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu untuk dapat berpikir bagi orang yang mau berpikir, padahal telah datang kepadamu seorang pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami), dan bagi orang-orang zalim tidak ada seorang penolong pun." (QS. Fatir 35: Ayat 36-37)

2. Tidak beramal shaleh

"(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata,  Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia),"

"agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan.  Sekali-kali tidak!  Sungguh itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan." (QS. Al-Mu'minun 23: Ayat 99- 100)

3. Menyesal karena tidak segera berinfaq

"Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali), Ya Allah Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh."

"Dan Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang.  Dan Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Munafiqun 63: Ayat 11)


KEBENARAN AL QURAN
Oleh: Nashihudin
Al-Islam Telah berhasil mengeluarkan ummat manusia  belenggu kegelapan dari penyembahan berhala dengan mahluk kepada ajaran tauhid yang mengEsakan Allah SWT.

Orang orang yang masih belum sadar tentang kebenaran Al-Qur'an akan selalu diberi nasehat agar kembali pada jalan yang benar bertauhid kepada Allah SWT dan tunduk pada aturan-Nya. Era globalisasi harus nya semua orang bisa menggunakan akal fikir nya untuk melihat kebenaran Wahyu Al-Qur'an melalui ayat ayat qauniyah sebagai tanda kebesaran Nya dan ayat ayat qauliyah sebagai Wahyu tersurat dalam Al Qur'an.

"Katakanlah (Muhammad),  Wahai Ahli Kitab! Janganlah kamu berlebih-lebihan dengan cara yang tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti keinginan orang-orang yang telah tersesat dahulu dan (telah) menyesatkan banyak (manusia), dan mereka sendiri tersesat dari jalan yang lurus." (QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 77)

Ada beberapa nasehat untuk kita dalam rangka menjaga aqidah Islamiyyah menuju kemurnian tauhid:

1. Ada kekufuran

"Sungguh, telah kafir orang-orang yang berkata, Sesungguhnya Allah itu dialah Al-Masih putra Maryam. Padahal Al-Masih (sendiri) berkata, Wahai Bani Israil! Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu.Sesungguhnya barang siapa mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu." (QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 72)

2. PERNYATAAN Nabi ISA

"Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, "Wahai 'Isa putra Maryam! Engkaukah yang mengatakan kepada orang-orang, jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua Tuhan selain Allah?" ('Isa) menjawab, "Mahasuci Engkau, tidak patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada-Mu. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib." (QS. Al-Ma'idah: Ayat 116)

"Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (yaitu), "Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu," dan aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di tengah-tengah mereka. Maka setelah Engkau mengangkatku ke langit, Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkaulah Yang Maha Menyaksikan segala sesuatu." (QS. Al-Ma'idah: Ayat 117)

3. Jangan menjadi sasaran orang kafir

"Ya Allah  Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah dosa kami, ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkau Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana." (QS. Al-Mumtahanah: Ayat 5)
4. Meninggal kan tradisi orang orang Yahudi dan Nasrani dengan sabdanya rasululloh SAW

Dari Abu Sa’id Al-Khudriy, dari Nabi SAW, beliau bersabda,  “Sungguh kalian akan mengikuti langkah orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga walaupun mereka memasuki lubang biawak, kalian tetap mengikutinya”. Kami (shahabat) bertanya, “Ya Rasulullah,  apakah mereka itu kaum Yahudi dan Nashrani. Beliau bersabda,  “Lalu, siapa lagi ?”.  [HR. Bukhari juz 8, hal. 151]

Nashihudin
Ketua Majelis Tabligh PDM Jakarta Timur

Jumat, 13 Desember 2019

Dicari Ulama Waratsatul Anbiya!

Pada awalnya penegasan Allah dalam surah Fathir [35] ayat 28 bahwa orang yang paling takut kepada Allah itu adalah ulama. Penghargaan yang demikian tinggi terhadap ulama ditegaskan juga oleh berbagai Hadits Nabi. Salah satu Hadits Nabi  menyebutkan bahwa para ulama itu adalah pribadi-pribadi yang layak untuk mewarisi tugas-tugas para Nabi. Hadits dimaksud  adalah

: Artinya; ”Dari Abu Darda radliyallahu ‘anhu, Dia berkata: ”Sesungguhnya Aku mendengar Rasulullah saw bersabda,  siapa yang menempuh jalan yang di sana ia mencari ilmu Allah mudahkan jalan ke surga-Nya. Sesungguhnya malaikat  meletakkan sayap-sayapnya sebagai tanda dukungannya kepada pencari ilmu. Sesungguhnya mahkluk Allah yang ada di langit  dan di bumi, hingga ikan paus dilaut pun memanjatkan ampunan bagi pencari ilmu. Sesungguhnya keutamaan seorang berpengetahuan atas seorang tukang ibadah seperti keutamaan bulan atas seluruh benda bercahaya di langit. Sesungguhnya ulama itu para pewaris para nabi dan para nabi itu tidak mewarisi (uang) dinar dirham mereka hanya mewariskan ilmu siapa  yang mengambil ilmu ulama dia telah mendapat bagian yang banyak (HR Ibnu Majah).

Dengan terang Hadits di atas  menyebutkantiga hal sekaligus. Pertama, bahwa Allah dan malaikat serta makhluk Allah lainnya selalu memberikan dukungan  kepada seorang alim. Kedua, seorang alim dan sekian ulama dihargai tinggi oleh Allah sehingga kebaikan yang ditunaikannya  lebih berharga dari kebaikan tukang ibadah. Ketiga, tugas yang dilakukan ulama disamakan dengan tugas para nabi, yaitu  menebarkan pencerahan “ilmu” kepada orang banyak.

Mendefinisikan ulama

Kata ulama berasal dari bentukan isim fa’il kata  ‘alim yang bermula dari pola kata ‘alima ya’lamu ‘ilman yang bermakna mengetahui.Kata ‘alim secara leksikal pada mulanya  berarti orang yang tahu. Seorang dinyatakan mengetahui sesuatu manakala ia bertambah pengetahuannya. Untuk menambah pengetahuan seseorang mesti mencarinya (thalab al’ilm). Makna alim menurut Ibnu Abbas sebagaimana dikutip ‘Ikrimah,  adalah seorang yang tidak pernah menyekutukan Allah. Dia halalkan dan haramkan segala sesuatu berdasarkan ilmu- Nya, dia  senantiasa memelihara agama- Nya dan senantiasa berkeyakinan bahwa dia akan menemui-Nya dan seluruh amal  perbuatannya akan diperiksa-Nya. Sementara Said bin Jubair mendefinisikan seseorang memiliki al-khasyyah kepada Allah  manakala dalam dirinya ada defosit diri yang menghalanginya dari mendurhakai Allah. Karena itu pribadi yang berkualitas ulama sebagaimana yang disebutkan ayat dalam surah Fathir adalah seorang yang dengan pengetahuan yang diperolehnya menambah ketakutannya kepada- Nya karena dia meyakini bahwa pengetahuan yang dimilikinya semakin menyadarkannya bahwa Allah lah yang paling berkuasa dari segala sesuatu. Demikian Abul Fida Ismail Ibn Katsir ad-Dimasyqi dalam tafsirnya  (III: 545).

Sufyan ats-Tsawri pernah membagi  para ulama pada tiga kategori. Pertama‘alim billah alim biamrillaah. Yaitu ulama yang takut kepada Allah sekaligus tahu dengan  baik perintah-perintah Allah dan batasan-batasan yang dikerjakan dan  ditinggalkannya; Kedua alim billaah laysa bi’alim biamrillaah, yaitu ulama yang takut kepada Allah tetapi tidak mengetahui   erintah Allah dan batasan-batasan-Nya dan ketiga alim biamrillah laysa bi’alim billaah, ulama yang tahu perintah Allah tetapi  tidak takut kepada Allah. 

Ulama Waratsatul Anbiya
Hadits terbahas menegaskan bahwa ulama itu adalah pewaris para nabi. Ini  bermakna bahwa apa yang menjadi prasyarat kenabian yang melekat kepada para nabi sedikit banyak juga menjadi parasyarat keulamaan waratsat al-anbiya. Abu Bakar al-Jazairi menegaskan seorang diangkat menjadi nabi karena dalam dirinya   ditemukantiga karakteristik sekaligus, yaitu unsur al-mitsaaliyyah, syaraf an-naas dan amil az-zaman (al-Jaziri dalam Ilyas: 2002).  arena itu pula seseorang alim dinyatakan sebagai alim yang mewarisi para nabi manakala memenuhi tiga unsur tersebut.

Seorang ulama dinyatakan memenuhi unsur almitsaliyah manakala dia mempunyai aspek kemanusiaan yang utuh dan   aripurna yang ditunjukkan dengan fisik yang sehat dan kuat, akal intelektual yangkomprehensif serta dihiasi dengan jiwa yang mulia. Dalam kesehariannya dia menjaga perilakunya sehingga apa yang dilakukannya menjadi panutan dan teladan   agi orang di sekelilingnya. Saat seorang alim menjadi teladan itu terkadang dia harus dinilai aneh (gharib) oleh sekelilingnya.

Seorang ulama disebut memenuhi unsur syarafs an-naas manakala perilaku dirinya menyemburatkan seorang yang  berasal dari keturunan yang terhormat yang senantiasa menjaga dan menjauhkan diri  dari berbagai bentuk perbuatan yang merendahkan dan menistakan nilai-nilai kemanusiaan dirinya. Dalam hal ini biasanya seorang ulama adalah sorang yang dihormati oleh  khalayak banyak. Dengan pengertian ini, maka seorang alim atau ulama dapat saja muncul dari kalangan orang yang  miskin  namun memelihara kemuliaan jiwa sebagaimana terwakili dalam pribadi alim yang bernama Abul Walid al-Baji yang untuk tiba  pada derajat kealimannya dia merantau ke negari Damaskus, Mosul dan Mesir dengan penuh keprihatinan. Dalam beberapa fase pengembaraan keilmuannya al-Baji terpaksa sempat harus bekerja sebagai seorang satpam di Baghdad demi mendapatkan upah supaya dapat terus mencari ilmu (Muhammad:2001).

Seorang ulama dikatakan memenuhi unsur amil  az-zaman ketika pelayanannya kepada orang banyak benar-benar dirasakan kehadirannya. Keberadaannya di tengah umatnya  dilakukan dalam bentuk perbaikan tatanan sosial masyarakat, tatanan akhlak bahkan tatanan ekonomi. Dalam hal ini seorang  alim berarti seorang yang bukan orang pada umumnya sebab jika kualitas dirinya sama dengan yang lainnya maka orang  banyak pun akan memandangnya sebagai pribadi yang lumrah saja. Tetapi ketidaklumrahan ulama ini tidak berarti dia tidak  dekat dengan umatnya pada saat yang sama meskipun dia dekat dengan umatnya tidak bermakna dia menjual nilai  eulamaannya demi mengikuti opini kebanyakan sehingga menyesuaikan diri dengan keinginan sesaat umatnya.

Dengan  illustrasi demikian, dapatlah dipahami jika dalam blantika sejarah ditemukan fakta bahwa para ulama terkadang lebih diakui  otoritasnya dari penguasa. Perhatikan misalnya ulama semacam Abu  Hamid al-Isfiriyani yang dengan leluasa dapatberkata  epada Khalifah “Saya sangat menyadari bahwa Anda tidak akan dapat mencopot kekuasaan yang Allah anugerahkan kepada  aya. Tetapi jika saya kirimkan surat dengan dua tiga kalimat saja kepada  rakyat Khurasan saya dapat mencopot Anda.

Mewaspadai pengkhianatan ulama

Sejarah mencatat, sebagaimana halnya para nabi dalam melaksanakan tugas risalah kenabiannya senantiasa menjaga  kemandiriannya. Demikian halnya denganpara ulama juga selalu memelihara  ndefendensinya. Jika seorang Muhammad saw berjual beli di pasar sebagaimana diabadikan Al-Qur’an dengan kalimat yamsyi  il aswaq, untuk memelihara kemandirian itu para ulama pun memiliki mata pencaharian  sendiri. Abu Hanifah, pada saat tidak  sedang menelisik sumber-sumber ilmu atau sibuk memberikan fatwa, ia membuka baqalah tokonya dan melayani para pembeli  kain yang dijualnya. Sedangkan seorang alim bernama Sari as-Saqathi, untuk menopang aktivitas keulamaannya dia menjadi  enjual bahan bangunan di pasar. Dalam tradisi Muhammadiyah pun hal yang sama dilakukan para ustadz dan kiainya yang pionernya adalah KH Ahmad Dahlan yang  berjualan batik.

Dengan karakteristik sebagaimana telah disebutkan di atas maka  tugas ulama H A D I T S  sangatlah beratnya. Tidak ringannya tugas ulama karena sebagai manusia biasa dia dituntut untuk  menampilkan dirinya sebagai orang yang dijadikan contoh sekaligus diperlukan  oleh orang banyak. Di tengah idealita  keulamaan yang sejatinya mewarisi nilai-nilai kenabian ditengarai ada oknum ulama yang menjual dirinya untuk  berselingkuh  dengan kekuasaan dan opini khalayak banyak. Ulama semacam ini dalam bahasa Julien Benda (1950) adalah ulama yang   elakukan pengkhianatan terhadap tugas mulia keulamaannya atau dalam bahasa para ahli etika disebut sebagai ulama as-suu,  lama yang mengusung  kejahatan. Jika surah Fathir ayat 28 yang menjadi landasannya mereka yang berselingkuh dengan   erbagai “kepentingan” ini tidak lah pantas disebut ulama. Dalam kategori Sufyan ats-Tsawri ulama ini, adalah ulama yang  mengerti segala sesuatu yang  terkait dengan aturan tapi tidak takut kepada Allah. Kelompok ulama seperti ini patut diwaspadai karena biasa melakukan “konsesi- konsesi” dengan berbagai kepentingan  di tengah masyarakat dan “berkolaborasi” dengan  berbagai kekuatan yang dimanfaatkan dan memanfaatkannya. Jika dibiarkan pelan namun pasti dapat menyesatkan orang  banyak yang berujung pada runtuhnya sendi-sendi kehidupan dan  ambruknya nilai-nilai kemanusiaan. Karena itulah tulisan kali  ini mengingatkan para pembelajar semua untuk mencari dan memastikan keberadaan para ulama waratsatul anbiya itu! 

Wallahu A’lam bish-Shawab


WAWAN GUNAWAN ABDUL WAHID


Alumni Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Garut, 
Dosen Uin Sunan Kalijaga Yogyakarta

Jumat, 06 Desember 2019

Hukum Go-Pay dalam Aplikasi Gojek


Pertanyaan:
Assalamu ‘alaikum wr wb
Saya mau bertanya, bagaimana hukum GoPay dalam aplikasi Gojek menurut Tarjih Muhammadiyah? Hal ini karena ada ustadz yang menyatakan dalam ceramah yang disiarkan melalui aplikasi youtube, beliau menyatakan GoPay itu haram.
Wassalamu ‘alaikum wr wb
Deaisya Maryama (disidangkan pada Jum‘at, 1 Rabiulawal 1440 H / 9 November 2018 M)
Jawaban:
Wa ‘alaikumus salam wr wb
Terima kasih atas pertanyaan saudari, semoga saudari senantiasa berada dalam naungan hidayah Allah SwT.
Perlu diketahui bahwa pada dasarnya, semua bentuk muamalah adalah dibolehkan, kecuali jika ada dalil yang melarang atau mengharamkannya. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kaidah fikih,

Hukum asal dalam semua bentuk muamalah adalah boleh dilakukan, kecuali jika ada dalil yang mengharamkannya.
Termasuk dalam muamalah adalah sebagaimana yang saudari tanyakan, yaitu hukum GoPay. Sebelum menjelaskan tentang hukum GoPay, perlu kami informasikan terlebih dahulu tentang GoPay. GoPay adalah dompet virtual untuk menyimpan Gojek Credit yang bisa digunakan untuk membayar transaksi-transaksi yang berkaitan dengan layanan di dalam aplikasi Gojek.
GoPay ini pada dasarnya mirip dengan kartu ATM yang bisa dipakai untuk transaksi jual beli. Bedanya, ATM memiliki bentuk fisik berupa kartu, sedangkan GoPay menggunakan aplikasi dalam smart phone.
Dalam fikih muamalah, setelah kita mengetahui pengertian sebuah produk bisnis, maka kemudian yang harus dicari adalah takyif (karakteristik/sifat) akad dari bisnis tersebut. Menurut sebagian ulama yang mengharamkan GoPay, keharaman GoPay didasarkan pada pendapat bahwa takyif fikih akad dalam GoPay adalah akad utang piutang, sehingga dalam akad ini berlaku kaidah,
Setiap piutang yang mendatangkan kemanfaatan/keuntungan tambahan adalah riba.
Sebagai konsekuensi, ketika mengatakan bahwa akad antara pengguna dan perusahaan pemilik GoPay adalah utang piutang, maka tambahan keuntungan (termasuk dalam hal ini diskon) termasuk hal yang diharamkan karena termasuk riba. Qiyasnya adalah sama dengan bunga bank.
Dalam pendapat ini, haramnya GoPay hanyalah ketika adanya diskon (keuntungan), sehingga jika menggunakan GoPay tanpa adanya diskon, hal itu diperbolehkan. Diskon dalam GoPay yang (menurut pendapat ini) sudah dihukumi dengan riba, maka berlaku ayat,

Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba (Qs. Al-Baqarah [2]: 275).
Namun demikian, skema GoPay bukan akad utang piutang (qardh), melainkan diidentifikasikan dengan skema akad jual beli jasa. Indikasi akad jual beli ini adalah pihak pelanggan mendepositkan uangnya dalam GoPay (mirip dengan deposit di e-money), dan costumer bertransaksi langsung ke Gojek dengan mendepositkan sejumlah dana tertentu di GoPay untuk pembayaran atas jasa Gojek yang akan dimanfaatkan di kemudian hari.
Oleh karena itu, substansi akadnya bukan utang piutang, tetapi jual beli jasa. Deposit itu sebagai upah yang dibayarkan di muka. Dalam hal ini costumer tidak dianggap bermuamalah dengan bank melainkan dengan pihak Gojek layaknya e-money. Dengan demikian, maka skema ijarah maushufah fi dzimmah lebih tepat untuk kasus GoPay, yaitu bayaran atau fee (ujrah) nya dibayarkan di muka.
Dalam Ensiklopedi Fiqh dinyatakan, selama ijarah berupa akad muawadhah (berbayar), maka boleh bagi penyedia jasa meminta bayaran (upah) sebelum memberikan layanan kepada pelanggan, sebagaimana penjual boleh meminta uang bayaran (barang yang dijual) sebelum barangnya diserahkan. Jika upah sudah diserahkan, maka penyedia jasa berhak untuk memilikinya sesuai kesepakatan, tanpa harus menunggu layanannya diberikan (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 1/253).
Ini seperti akad salam, hanya saja, objek transaksi akad salam adalah barang. Konsumen membeli barang, uangnya dibayar tunai di depan, namun barang datang kemudian. Seperti juga e-toll atau e-money untuk pembayaran beberapa layanan yang disediakan oleh penyelenggara aplikasi. Akadnya adalah jual beli, dengan uang dibayarkan di depan, sementara manfaat/layanan baru didapatkan menyusul sekian hari atau sekian waktu kemudian.
Pemilik barang secara prinsip berhak menentukan harga, dan berhak pula memberikan diskon bagi konsumen yang membeli dengan pembayaran cash di muka sebelum barang diserahkan. Jika hal ini berlaku pada barang, tentu berlaku pula untuk jasa. Sehingga boleh bagi konsumen yang memiliki GoPay memperoleh diskon dari pihak penyedia aplikasi. Dengan demikian hukum bertransaksi menggunakan GoPay dalam aplikasi Gojek adalah boleh.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Rubrik Tanya Jawab Agama Diasuh Divisi Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah
Tulisan ini pernah dimuat di Majalah SM Edisi 19 Tahun 2019


Pertanyaan:
Assalamu ‘alaikum wr wb
Pada shalat Jum’at di masjid kompleks tempat tinggal saya, setelah iqamah imam meminta kepada makmum untuk meluruskan shaf (berbahasa Arab) kemudian juga menyuruh makmum anak-anak untuk tidak ribut (berbahasa Indonesia). Yang ingin saya tanyakan, apakah hukumnya seorang imam shalat Jum’at berkata “anak-anak jangan ribut” sebelum takbir shalat tersebut.
Wassalamu alaikum wr wb
Zulkhaidir Syah, Muara 2 OKU Selatan
(disidangkan pada Jum’at, 13 Muharram 1438 H / 14 Oktober 2016)

Imam Shalat Berkata “Anak-Anak Jangan Ribut”

Jawaban:
Terima kasih atas pertanyaan saudara semoga dapat memberikan kejelasan. Perlu diketahui terlebih dahulu bahwa pertanyaan yang sama sudah pernah dimuat pada buku Tanya Jawab Agama terbitan Suara Muhammadiyah Jilid 4 hal 115, tentang Masalah Shalat Jum’at.
Rasulullah pernah bersabda yang berkenaan dengan taswiyah ash-shufuf (meluruskan shaf) seperti yang saudara tanyakan, di antaranya adalah sebagaimana termuat dalam hadis-hadis berikut,
Hadits riwayat dari Anas bin Malik:

Luruskanlah shaf kalian, karena lurusnya shaf adalah bagian dari tegaknya shalat. [HR. Al-Bukhari no. 681].
Hadits riwayat dari Anas bin Malik:

Luruskanlah shaf dan rapatkanlah… [HR. Al-Bukhari no. 678].
Hadits riwayat dari Abu Umamah:

Luruskan shaf-shaf kalian, ratakan pundak-pundak kalian, bersikaplah lembut pada tangan-tangan saudara kalian dan tutuplah celah karena sesungguhnya setan menyela di antara kalian seperti anak-anak domba kecil [HR. Ahmad no. 21233]
Hadits riwayat dari Nu’man bin Basyir, Rasulullah saw bersabda:

Luruskanlah shaf kalian, atau Allah akan memalingkan wajah-wajah kalian [HR. Al-Bukhari no. 676].
Berdasarkan hadits-hadits di atas dapat diketahui bahwa sebelum shalat berjamaah dimulai, maka imam dianjurkan terlebih dahulu mengingatkan jamaahnya (makmumnya) agar meluruskan shaf. Hal ini karena lurusnya shaf dalam shalat berjamaah itu sangat penting, sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits di atas. Seperti inilah tuntunan Rasulullah saw yang berkaitan dengan pengaturan shaf dalam shalat berjamaah, termasuk pula pada shalat jamaah Jum’at.
Imam Asy-Syaukani dalam kitab Nailul Authar bab Al-Hitsu ‘ala Taswiyati as-Shufufi wa Rassiha wa Saddi Khilaliha (Daaru Al-Hadits / 2005 M) III: halaman 196 bahwa imam boleh berbicara di antara iqamah dan masuknya shalat (takbiratul ihram). Tentunya berbicara yang dimaksud di sini bertujuan untuk ketertiban dalam shalat. Sama halnya ucapan imam yang mengatakan “anak-anak jangan ribut” merupakan ucapan yang dibolehkan karena bertujuan untuk ketertiban dan kekhusyukan dalam shalat.
Oleh karenanya yang dilakukan imam yaitu berkata “anak –anak jangan ribut” adalah salah satu cara agar makmum dapat melaksanakan shalat berjamaah dengan khusyuk. Sama halnya ketika imam memerintahkan makmumnya untuk menonaktifkan telepon selular atau mengubahnya ke mode silent (diam) agar tidak mengganggu kekhusyukan shalat.
Dalam hal ini Imam menggunakan bahasa yang dapat dipahami oleh makmumnya, apakah itu bahasa Indonesia atau bahasa lainnya. Sepanjang itu untuk menertibkan shalat agar makmum satu sama lainnya tidak terganggu pada saat shalat sudah dimulai, sebagaimana yang dicontohkan Nabi saw di dalam riwayat Muslim dari sahabat Abu Mas’ud:

“Dahulu Rasulullah saw mengusap pundak kami dalam shalat..“ [HR. Muslim no. 432]
Hadits di atas menunjukkan bahwa imam dianjurkan untuk mengatur shaf makmumnya dengan cara apapun, bukan hanya dengan cara mengusap pundak, akan tetapi boleh juga dengan melafalkan taswiyah dan ucapan atau pergerakan yang dipahami makmum. Adapun Rasulullah saw mengusap pundak makmumnya agar shaf rapi dan lurus. Begitu pula imam yang mengatakan “anak-anak jangan ribut” adalah cara agar makmum (anak kecil yang belum paham lafadz taswiyah dengan bahasa arab) dapat tertib dalam shalat.
Dengan demikian perkataan imam “anak-anak jangan ribut” setelah taswiyah ash-shufuf sebelum takbiratul ihram tidak menjadikan shalat rusak atau tidak sah. Shalat yang dilakukan tetap sah, karena imam mengucapkan kata-kata tersebut di luar dari rangkaian shalat.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Rubrik Tanya Jawab Agama Diasuh Divisi Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah